Go merupakan bahasa pemrogaman yang banyak digunakan saat ini karena dikenal dengan fitur utamanya sebagai first class citizen untuk concurrency problems. Go menggunakan pendekatan concurrency yang cukup berbeda dari beberapa bahasa lainnya seperti Python dan Java dengan traditional thread-based models.
Instead menggunakan shared memory antar threads, Go menggunakan Channel untuk mengirim data dan berkomunikasi antar Goroutines lainnya. Setiap unit Goroutines bekerja secara independen, concurrent dan lightweight.
Goroutines tidak menggunakan OS threads, melainkan scheduler yang dihandle secara runtime (memory, swap, cpu, etc), sehingga kita dapat membuat sebanyak mungkin Goroutines tanpa mempengaruhi kinerja program secara efisien dengan minimal overhead.
Go Scheduler: The Go scheduler is responsible for managing the execution of Goroutines. The scheduler can distribute Goroutines across multiple OS threads, each of which can run on a separate CPU core. This means that your Goroutines can be executed in parallel, taking full advantage of the available CPU cores.
Untuk itu di artikel ini akan membahas bagaimana Goroutines bekerja dan problems apa saja yang bisa kita temui. Let’s get this bread!
Table of Contents:
- Concurrency vs Parallelism
- Pengenalan Goroutines
- Pengenalan Channels
- Panic & Deadlock situations
- Error Handling
- Race Conditions Problem
- Waitgroup & Mutex (Synchronization Primitives)
Concurrency vs Parallelism
Most people do not understand clearly the difference between concurrent and parallel
Betul, termasuk saya awalnya juga bingung…
Concurrency

Analogi: 1 orang mampu menangani pekerjaan sekaligus (multi-tasking)
Sederhana-nya, Concurrency merupakan sebuah kemampuan sistem dalam menangani banyak pekerjaan sekaligus dan berjalan secara independen, tetapi proses eksekusinya dilakukan dalam satu waktu (overlapping).
Artinya pekerjaan-pekerjaan tersebut dilakukan secara bersamaan oleh 1 orang (single-core processor). Dimana 1 orang ini merupakan orang yang multi-tasking, dia bisa menjalankan banyak pekerjaan sekaligus. Entah pekerjaan pertama dikerjaan setengah dahulu, terus lanjut ke pekerjaan lain, atau pekerjaan kedua dikerjakan dahulu lalu lanjut ke pekerjaan pertama.
Technically, ini disebut context switching.
Context Switching
Fyi, ketika goroutine dibuat, runtime go (scheduler) akan mengalokasikan beberapa thread OS kecil yang digunakan untuk mengeksekusi satu goroutine. Jika goroutine tersebut diblokir(e.g: mutex, channel), maka go scheduler melakukan context switching ke goroutine lain yang akan dieksekusi pada thread tersebut.
Sehingga setiap goroutine yang diblokir akan dihapus dari thread, dan goroutine lain dijadwalkan untuk dieksekusi. Ini alasan mengapa Goroutines disebut cheap.
Read: https://blog.nindalf.com/posts/how-goroutines-work/
Parallelism

Analogi: banyak orang melakukan banyak pekerjaan sekaligus
Sederhana-nya, Parallelism merupakan sebuah mekanisme pelaksanaan banyak pekerjaan yang dilakukan oleh banyak orang secara bersamaan (gotong-royong).
Artinya pekerjaan-pekerjaan tersebut akan dipecah menjadi sub-bagian terkecil lalu ditugaskan kepada setiap orang, masing2 orang bertanggung jawab atas pekerjaannya (multi-core processor). Sehingga hasil yang di dapat bisa mempercepat waktu pekerjaan.
In simple terms:
- Concurrency: menangani banyak hal sekaligus
- Parallelism: melakukan banyak hal sekaligus
Pengenalan Goroutines
Go secara built-in di-desain untuk concurrency programming. Jadi, kita bisa dengan mudah menjalankan concurrent process hanya dengan memanggil statement go
:
go func() {
...
}()
Dengan goroutine, proses eksekusi dapat dijalankan secara asynchronous atau non-blocking sehingga tidak perlu menunggu proses lainnya selesai.
Goroutines Behaviour
Di golang, setidaknya ada 1 goroutine yang aktif yaitu main goroutine pada main
function.
func main() {
go func() {
time.Sleep(5 * time.Second) // 5 seconds
fmt.Println("Goroutine started")
}()
fmt.Println("Main executed")
}
Output yang dihasilkan:
Main executed
Terlihat output diatas hanya Main executed
saja yang muncul, main
function melanjutkan eksekusi fmt.Println("Main executed")
tanpa menunggu goroutine process selesai. Padahal jika dilihat inside go routine terdapat function delay selama 5 detik, sedangkan "Main executed"
muncul sebelum 5 detik.
Walaupun output "Goroutine started"
tidak muncul, secara tidak langsung Goroutine akan dialokasi ke heap memory dan berjalan di background, kemudian akan release setelah eksekusi 5 detik selesai.
Mungkin disini ada pertanyaan,
- Bagaimana melanjutkan eksekusi hanya jika setelah proses goroutine selesai
- Bagaimana mendapatkan sebuah nilai result dari goroutine function
Faktanya, di goroutine kita tidak bisa melakukan seperti ini:
func work() bool{
return true
}
v := go work() // Nope
Goroutine tidak mengembalikan nilai!
Synchronizations
Synchronizations is the answer!
Karena goroutine berjalan secara concurrent dan independen, tidak ada urutan implisit di antara operasi yang mereka jalankan. Bisa jadi task-B selesai, tanpa harus menunggu task-A selesai atau sebaliknya. Maka dari itu kita butuh Synchronizations!
Synchronizations merupakan cara mengkoordinasikan beberapa proses (goroutine) untuk memastikan akses mereka menjadi teratur(sinkron)
The problems:
var sum = 0
go func() {
time.Sleep(2 * time.Second) // 2 seconds
sum++
fmt.Println("Operations 1, done!")
}()
go func() {
time.Sleep(3 * time.Second) // 3 seconds
sum++
fmt.Println("Operations 2, done!")
}()
fmt.Println("Result: ", sum)
Output:
Result: 0
Case diatas terdapat 2 goroutine, setiap operasi goroutine akan melakukan increment plus one. Tapi, hasil yang didapat selalu 0
, sedangkan ekspetasi nilai sum
seharusnya adalah 2
.
Golang sendiri secara primitive sudah menyediakan beberapa cara untuk melakukan Synchronization, bisa menggunakan Channel, dan cara lainnya yang cukup simple bisa menggunakan sync standard package.
Kita bahas Channel di section selanjutnya, kita akan mulai dengan sync
sync WaitGroup
sync.WaitGroup
merupakan mekanisme synchronizations di go yang digunakan untuk menunggu eksekusi koleksi goroutines hingga selesai. *WaitGroup
pada dasarnya terdiri dari 3 methods:
Add(delta int)
: jumlah goroutines yang ingin ditunggu (sinkronkan),
Done()
: sebagai trigger untuk menandakan proses goroutine (n) selesai,
Wait()
: sebagai blocking untuk operasi selanjutnya, ini akan menunggu semua proses goroutines yang didaftarkan tadi selesai Done()
Umumnya, nilai WaitGroup
digunakan untuk skenario di mana satu goroutine menunggu (main) hingga semua goroutine lain menyelesaikan pekerjaannya masing-masing.
var (
wg sync.WaitGroup
sum = 0
)
wg.Add(1)
go func() {
defer wg.Done()
time.Sleep(2 * time.Second) // 2 seconds
sum++
fmt.Println("Operations 1, done!")
}()
wg.Add(1)
go func() {
defer wg.Done()
time.Sleep(3 * time.Second) // 3 seconds
sum++
fmt.Println("Operations 2, done!")
}()
wg.Wait()
fmt.Println("Result: ", sum)
Output:
Operations 1, done!
Operations 2, done!
Result: 2
Pada case diatas, kita ingin menunggu 2 goroutines selesai secara sinkron dengan membuat 2 panggilan wg.Add(1)
. Setiap goroutine saat proses eksekusi-nya selesai akan call wg.Done()
. Kemudian output Result:
baru akan muncul sampai semua proses 2 goroutines tadi selesai.
Simplenya, ini sebenernya seperti counter. Ketika wg.Add
dipanggil maka nilai wait-group akan selalu ditambah, dan ketika wg.Done
dipanggil nilai wait-group akan selalu dikurangi sampai menjadi 0. Kemudian wg.Wait()
akan melanjutkan eksekusi ke operasi selanjutnya.
Pengenalan Channels
Ini salah satu bagian yang menarik di Go, jadi saya akan mulai dengan mantra terkenal Golang:
Don’t communicate by sharing memory; share memory by communicating!
Saya pikir ini bukan sekedar mantra, tapi juga sebuah prinsip.
Pendekatan concurrency di go menggunakan Channel untuk saling berbagi memori (values) sebagai cara untuk berkomunikasi.
Purposes of Channel: Synchronization dan Communication. Secara logika ini seperti hubungan sebuah entitas antara producer dan consumer untuk saling berbagi values. Producer sebagai penghasil nilai, consumer sebagai penerima nilai.
Channel Pipelines
Channel generally terdapat 2 operations: sender
dan receiver
1. First, allocates the channel
make(chan T)
2. Wait to senders ready (spawn)
Proses pengiriman data ch <- val
ke channel akan diblokir sampai receiver
ready
go func(ch T) {
ch <- val
}(ch)
3. Wait to receivers ready
Proses penerimaan data dari channel akan diblokir sampai sender
ready
<-ch
4. Closing
Close channel artinya tidak ada lagi data yang akan dikirim ke channel. Channel yang sudah di close tidak dapat mengirim data, tetapi masih bisa menerima.
close(ch)
(Hint: set value → send to channel → receive from channel -> close)
Channel Behaviours
Type Safety
Channel secara explicit didefine dengan tipe data T
. Ini untuk memastikan agar sender
dan receiver
mengirim/menerima data yang valid dan konsisten. Thanks generics!
Blocking
Kalau di bagian sebelumnya kita menggunakan wg.Done()
untuk memberikan signal bahwa proses goroutine telah selesai dieksekusi, lalu wg.Wait()
untuk block eksekusi sampai semua goroutines telah selesai. Channel(unbuffered) secara default melakukan synchronizations dengan memblokir operasi tertentu dan memberikan signal bahwa proses telah selesai.
Untuk itu, perhatikan kode dibawah ini untuk mengetahui bagaimana blocking bekerja:
ch := make(chan bool)
// Producer
go func() {
ch <- true // Sender ready
}()
// Another operations
fmt.Println("Prepare") // Not blocked
// Consumer
time.Sleep(2 * time.Second) // Time processed in 2 seconds
fmt.Println("Result: ", <-ch) // Receiver ready
// Another operations
fmt.Println("All Executions finished!") // Blocked until receiver ready
Output:
Prepare
Result: true
All Executions finished!
Terlihat output Prepare
muncul sebelum receiver
ready menerima value, dan All Executions finished!
muncul setelah receiver
ready. Artinya receiver kalau belum ready (belum dipanggil) proses eksekusi operasi lainnya akan diblock sampai receiver ready. Begitupun sebaliknya, ketika sender belum ready untuk mengirim value, walaupun receiver sudah ready (sudah dipanggil) ini juga akan membuat blocking ke operasi lainnya.
Perhatikan jika sender belum ready, outputnya akan kosong dan program stuck (deadlocks)!
...
go func() {
// ch <- true
}()
...
Channel berkomunikasi dengan membagi data dengan cara yang lebih safe dan predictable. Channel memberikan flexibility dan cara yang lebih expressive untuk synchronization, tapi bukan berarti harus pakai channel untuk semua usecase, kita bisa combine mutexes dan wait-groups untuk use case yang lebih kompleks nantinya.
A common Go newbie mistake is to over-use channels and goroutines just because it’s possible, and/or because it’s fun.
Goroutine Executions
Untuk memulai sender
, kita perlu membuatnya dalam goroutine seperti contoh diatas. Tapi disini saya cukup penasaran, bagaimana jika saya buat sender
diluar goroutine seperti ini:
func main() {
ch := make(chan bool)
ch <- true // Nope
}
Outputnya kosong, program stuck(deadlocks)! Mengapa ini terjadi?
- Iya pertama, seperti yang sudah di-mention sebelumnya. Di golang at least setidaknya ada 1 goroutine yang aktif yaitu main goroutine pada main function. Jadi karena channel ini sifatnya blocking, terus
sender
dijalankan langsung menggunakan main routine maka ini menyebabkan main routine nge-block secara keseluruhan.
- Kedua karena jalur komunikasi channel dibuat unbuffered (blocking). Jadi kita bisa ubah menjadi bufferred (non-blocking) dengan main routine.
func main() {
ch := make(chan bool, 1)
ch <- true // Ok
}
Channel Bufferred vs Unbuffered
Go channel menyediakan 2 mekanisme komunikasi channel yaitu unbuffered dan buffered
- Unbuffered channel:
make(chan T)
-> synchronous (default)
- Buffered channel:
make(chan T, size)
-> asynchronous, synchronous
Unbuffered channel (Default)
By default channel itu no buffer size, nilainya 0 make(chan T, 0)
. Komunikasinya bersifat blocking, ketika sebuah nilai dikirim pada unbufferred channel, sender
akan memblokir sampai ada receiver
siap menerima data, begitupun juga sebaliknya.
replyChan := make(chan int)
go func() {
for i := 0; i < 5; i++ {
replyChan <- i
fmt.Println("Placed: ", i)
}
close(replyChan)
}()
for n := range replyChan {
fmt.Println("Preparing ", n)
time.Sleep(2 * time.Second) // Time processed
fmt.Println("Served ", n)
fmt.Println("")
}
Output:
Placed: 0
Preparing 0
Served 0
Preparing 1
Placed: 1
Served 1
Preparing 2
Placed: 2
Served 2
Preparing 3
Placed: 3
Served 3
Preparing 4
Placed: 4
Served 4
Scenario diatas, anggap saja terdapat 5 antrian takeaway order. Pekerjaannya meliputi: Placed
, Preparing
dan Served
. Masing-masing dihandle secara sequential, ketika 1 pesanan datang, disaat itu juga langsung di proses, kemudian ketika selesai langsung di serve ke pelanggan. Secara logika ini seperti queue task.
Buffered channel
Buffered channel sifatnya aga unik. Mereka akan non-blocking/asynchronous selama buffer size-nya belum full. Dan akan menjadi blocking/synchronous ketika buffer size-nya full (kembali ke sifat aslinya).
Perlu digaris bawahi buffer size disini adalah capacity berapa kali sender
tersebut mengirim value. Jika capacity dari buffer tersebut hanya 2
, maka proses sender
mendapat limit 3
kali untuk menjalankan proses asynchronous dimulai dari 0 -> 1 -> 2
. Selama buffer size nya belum sampai 2
, sender
tidak perlu menunggu receiver
untuk ready.
Setiap panggilan sender
akan menggunakan space pada buffer size menjadi +1
, dan ketika panggilan receiver
akan memberikan space pada buffer size menjadi -1
sampai buffer size menjadi 0
(kosong).
replyChan := make(chan int, 2)
go func() {
for i := 0; i < 5; i++ {
replyChan <- i
fmt.Println("Placed: ", i)
}
close(replyChan)
}()
for n := range replyChan {
fmt.Println("Preparing ", n)
time.Sleep(2 * time.Second)
fmt.Println("Served ", n, "-", "Buffer size ", len(replyChan))
fmt.Println("")
}
Output:
Placed: 0
Placed: 1
Placed: 2
Preparing 0
Served 0 - Buffer size 2
Preparing 1
Placed: 3
Served 1 - Buffer size 2
Preparing 2
Placed: 4
Served 2 - Buffer size 2
Preparing 3
Served 3 - Buffer size 1
Preparing 4
Served 4 - Buffer size 0
Scenario diatas, anggap saja terdapat 5 antrian takeway order. Bedanya, sekali order mampu menampung 3 pesanan sekaligus. Ketika pesanan ke 3 selesai, maka lanjut ke pesanan 4 dan 5 sekaligus. Secara logika ini seperti batch queues task.
Channel Directions
Channel secara default adalah bidirectional ch := make(chan int)
. Komunikasi berjalan dua arah, siapapun(goroutines) dapat mengirim (write) dan menerima values (read). Sifat dua arah ini dapat menyebabkan situasi di mana beberapa goroutine mengirim(write) dan menerima(read) value ke channel yang sama secara bersamaan.
Ini bisa menyebabkan issue seiring dengan makin tinggi-nya kompleksitas sistem yang dibuat, ditambah lagi ini merupakan concurrent. Beberapa issue diantaranya seperti: deadlocks, unpredictable executions, data flow yang tidak jelas dan berbagai masalah lainnya yang menyebabkan bug sulit di trace. Untuk itu perlunya kehati-hatian dan pemahaman yang baik dalam menulis concurrent program
Deadlocks(The Silent Menace): can be subtle and challenging to debug, especially in complex concurrent systems.
Dengan problem diatas, Go memberikan cara yang lebih safe yaitu unidirectional/single-directional (satu arah) artinya kita bisa memilih mau send only atau receive only.
chan T
: Komunikasi dua arah (bidirectional), diizinkan untuk mengirim dan menerima value
chan<- T
: Komunikasi satu arah (unidirectional), hanya diizinkan untuk mengirim value saja
<-chan T
: Komunikasi satu arah (unidirectional), hanya diizinkan untuk menerima value saja
The problem
Usecase, anggap saja ingin buat sistem git sederhana. Goalsnya, nanti terdapat owner
sebagai pemilik repository, kemudian contributor
yang ingin kontribusi ke repository tersebut melalui pull-request.
Happy flow: Contributor pull request -> Owner merge ke master
var wg sync.WaitGroup
var (
mergeCh = make(chan *git.Merge)
pullRequestCh = make(chan *git.PullRequest)
)
func mergeByOwner(wg *sync.WaitGroup, m chan *git.Merge, p chan *git.PullRequest) {
defer wg.Done()
// Check PR
time.Sleep(2 * time.Second) // time processed
pr := <-p
if pr.Actor != "" {
fmt.Println("PR from: ", pr.Actor, " processed")
// Merge to the master
time.Sleep(2 * time.Second) // time processed
m <- &git.Merge{
To: &git.Branch{
Name: "Master",
IsMaster: true,
},
From: &pr.Branch,
Approved: true,
}
fmt.Println("PR merged from: ", pr.Branch.Name, "to: Master ")
}
}
func pullRequest(wg *sync.WaitGroup, m chan *git.Merge, p chan *git.PullRequest) {
defer wg.Done()
// Create pull request
//
// Any PR will requested to owner
fmt.Println("PR requested")
p <- &git.PullRequest{
Actor: "Contributor",
Branch: git.Branch{
Name: "Feature",
},
}
// Forced to merge to the master branch :(
m <- &git.Merge{
To: &git.Branch{
Name: "Master",
IsMaster: true,
},
From: &git.Branch{
Name: "Feature",
},
Approved: true,
}
// Check merged request has been merged
merged := <-m
if merged.Approved {
fmt.Println("PR succesfully merged")
}
}
// Start 2 goroutines
wg.Add(2)
go pullRequest(&wg, mergeCh, pullRequestCh)
go mergeByOwner(&wg, mergeCh, pullRequestCh)
wg.Wait()
close(mergeCh)
close(pullRequestCh)
Output:
PR requested
PR from: Contributor processed
Program stuck (deadlocks), Mengapa ini terjadi?
Secara logika, seharusnya hanya owner yang bisa melakukan merge ke master branch. Ini terjadi karena penulis kode kurang teliti. Dia menggunakan data flow secara 2 arah, akibatnya contributor tiba2 melakukan merge ke master.
Talk is cheap. Show me the problems!
func pullRequest(wg *sync.WaitGroup, m chan *git.Merge, p chan *git.PullRequest) {
...
m <- &git.Merge{
To: &git.Branch{
Name: "Master",
IsMaster: true,
},
From: &git.Branch{
Name: "Feature",
},
Approved: true,
}
}
func mergeByOwner(wg *sync.WaitGroup, m chan *git.Merge, p chan *git.PullRequest) {
...
m <- &git.Merge{
To: &git.Branch{
Name: "Master",
IsMaster: true,
},
From: &pr.Branch,
Approved: true,
}
...
}
Kalau dilihat outputnya, program stuck(deadlocks) saat PR from: Contributor processed
. Indikasinya berarti ada bagian yang saling blocking alias sama2 nunggu. Faktanya, pada fungsi pullRequest
dan mergeByOwner
terjadi proses dimana mereka ingin mengirim/menulis value secara bersamaan.
Masalah ini terjadi, pada kedua fungsi tersebut menggunakan channel dua arah (bidirectional)
m chan *git.Merge, p chan *git.PullRequest
Maka dari itu, kita perlu ubah komunikasi channel tersebut menjadi satu arah (unidirectional)
Contributor (m
read only, p
write only):
func (g *Git) pullRequest(wg *sync.WaitGroup, m <-chan *Merge, p chan<- *PullRequest) {
...
}
Owner (m
send only, p
read only):
func (g *Git) mergeByOwner(wg *sync.WaitGroup, m chan<- *Merge, p <-chan *PullRequest) {
...
}
Uups, terjadi kesalahan!
invalid operation: cannot send to receive-only channel m (variable of type <-chan *git.Merge)
Selamat! Error menjadi sebuah jawaban. Itu artinya, contributor (pullRequest
) tidak diizinkan untuk merge branch ke master, yang boleh hanya owner. Jadi sekarang penulis kode sudah fixing code tersebut di production :)
Dengan unidirectional channel, data flow bisa menjadi lebih jelas dan predictable sehingga lebih mudah untuk dipahami.
Panic & Deadlock Situations
Ketika berbicara concurrency deadlock merupakan masalah yang cukup umum terjadi. Pada golang, deadlock terjadi ketika semua goroutine yang saling memblokir satu sama lain, akibatnya program stuck, dan tidak ada operasi yang dilanjutkan. Ini persis seperti problems yang kita alami di bagian sebelumnya.
Untuk itu, penting memahami situasi deadlock dan bagaimana solusinya:
Nil/empty channel
valChan := make(chan int)
// Do nothing spawned goroutine
go func() {
// valChan <- 1 (SOLUTIONS!)
}()
<-valChan
Tidak ada value yang dikirim, sehingga receiver terus menunggu.
valChan2 := make(chan int)
go func() {
valChan2 <- 10
// valChan2 <- 11 (SOLUTIONS!)
}()
<-valChan2 // (OK)
<-valChan2 // (Deadlock!)
Tidak ada value yang diterima, sehingga receiver terus menunggu dari sender ke-2.
Closed channel
var wg sync.WaitGroup
replyChan := make(chan int)
wg.Add(1)
go func(ch chan int) {
defer wg.Done()
ch <- 1
close(ch)
}(replyChan)
wg.Add(1)
go func(ch chan int) {
defer wg.Done()
// Already closed, PANIC!
ch <- 2
}(replyChan)
go func() {
wg.Wait()
}()
<-replyChan
<-replyChan
Value dikirim saat channel sudah di close pada goroutine ke 2
Solusi:
go func() {
wg.Wait()
close(ch)
}()
Close channel saat semua goroutine selesai.
Miss komunikasi
var wg sync.WaitGroup
replyChan := make(chan int)
wg.Add(1)
go func(ch chan int) {
defer wg.Done()
ch <- 1
}(replyChan)
wg.Wait()
<-replyChan // DEADLOCK!
wg.Wait()
menunggu semua operasi goroutine selesai. Ketika sender sudah mengirim value, ternyata receiver masih ke blocking oleh wg.Wait
.
Solusi:
...
go func(){
wg.Wait()
}()
<-replyChan
Solusinya execute wg.Wait
dalam goroutine sehingga goroutine lainnya (eg: main) bisa melanjutkan operasi. Dan goroutine diatas, akan handle wg.Wait
.
…
Selanjutnya, kamu akan mengalami sendiri dan hadapi ya! (Jangan ditinggal tidur)
Error Handling
Seperti yang kita tau, goroutine tidak mengembalikan value!
Jadi ketika ada proses goroutine yang error, perlakuannya sedikit berbeda. Bisa dilakukan menggunakan channel terpisah, ataupun by stored variables. Tetapi, Go sendiri menyediakan cara yang lebih praktis menggunakan errgroup.Group, secara default errgroup sudah handle synchronization (tanpa perlu sync.WaitGroup
), error propagation dan cancelation jadi ini sangat memudahkan.
var eg errgroup.Group
jobsChan := make(chan int)
// Create new goroutine
eg.Go(func() error {
jobsChan <- 10
return fmt.Errorf("Go to error") // Simulate the error
})
<-jobsChan
close(jobsChan)
// Waiting all goroutines done
// If err will returned
err := eg.Wait()
if err != nil {
fmt.Println("Error", err)
}
eg.Go
cara kerjanya mirip dengan wg.Add
. Bedanya, secara default itu akan launch goroutine, lalu masuk list ke daftar tunggu, dan akan selesai (wg.Done
like) dengan sendirinya.
eg.Wait()
akan menunggu semua goroutine selesai, jika mengembalikan error, operasi akan dihentikan.
Race Conditions Problem
Di bagian ini, kita akan coba sebuah permasalahan yang cukup umum juga selain deadlocks, yakni race conditions. Race conditions pada golang merupakan suatu kondisi beberapa goroutines yang dijalankan secara bersamaan, mengakses ataupun memodifikasi data yang sama.
Race conditions terjadi biasanya karena dari perlakuan proses executions itu sendiri. Karena seperti yang kita tau concurrent berjalan secara independen dan tidak berurutan. Jadi saat proses tersebut dijalankan, ada sumber data yang ingin diakses tetapi berdasarkan urutan eksekusi-nya.
Casenya ingin meng-akumulasi total order secara keseluruhan:
var wg sync.WaitGroup
var jobsChan = make(chan int)
var total = 0
send := func(ch chan int) {
defer wg.Done()
for i := 0; i < 10; i++ {
ch <- i
total++ // Calculate here
}
}
receive := func() {
for range jobsChan {
}
}
// Launch 3 goroutines
workers := 3
for i := 0; i < workers; i++ {
wg.Add(1)
go send(jobsChan)
}
go func() {
wg.Wait()
close(jobsChan)
}()
receive()
fmt.Println("total", total) // Output: Undetermined (Race condition)
Pada case diatas terdapat 3 goroutines. Ketika order selesai diproses, total order akan di akumulasikan menjadi 1 nilai total. Cuman output yang dihasilkan ambigu, kadang sesuai dan kadang tidak. Ini karena setiap goroutines tersebut berjalan secara random, jadi saat kalkulasi total++
proses increment belum selesai tapi sudah lanjut ke proses goroutine lain. Akhirnya nilai total tidak sesuai, inilah yang disebut race conditions.
Once you encounter a shared resource in a concurrent software, you have to be careful while accessing this resource especially if you are writing to it.
Untuk tau apakah code diatas menyebabkan race conditions atau tidak, di Go kita bisa debug dengan run go run -race
Output:
WARNING: DATA RACE
...
total 28
Found 2 data race(s)
Sebentar, bukannya sync.WaitGroup
tadi untuk synchronizations? Menunggu sampai goroutines selesai? Betul, mekanisme tersebut melakukan synchronizations tetapi tidak membuat urutan eksekusi nya saling berurutan.
Since race conditions caused by concurrent manipulation of shared mutable data are disastrous bugs — hard to discover, hard to reproduce, hard to debug — we need a way for concurrent modules that share memory to synchronize with each other.
Sebelum mengetahui bagaimana solusinya, kita perlu tahu dulu beberapa prinsip thread safety:
- Confinement: Jangan saling berbagi memori antar threads, hanya ada satu thread yang mempunyai akses untuk memodifikasi.
- Immutability: Buat data yang digunakan bersama menjadi immutable. You can only read the variable, not write it!
- Type safety: Tipe data yang kuat, ketika ada kesalahan akan dicek saat kompilasi bukan saat runtime.
- Synchronization (Locking): Mencegah thread mengakses data bersama secara bersamaan. Hanya ada satu thread dalam satu waktu. “I’m changing this thing, don’t touch it right now.”
Discipline needs to be written down, or maintainers won’t know what it is.
Untuk solve masalah diatas, kita perlu yang namanya Mutual Exclusion (Mutex). Ini digunakan agar hanya ada satu goroutine yang dapat mengakses data dalam satu waktu, sehingga menghindari race conditions.
Waitgroup & Mutex (Synchronization Primitives)
sync.WaitGroup
& sync.Mutex
merupakan cara traditional synchronization untuk solve permasalahan race conditions. Keduanya diperlukan untuk tujuan berbeda tetapi saling berkaitan:
sync.WaitGroup
: digunakan untuk menunggu beberapa goroutines selesai
sync.Mutex
: digunakan didalam goroutine sebagai representasi status goroutine tersebut terkunci/tidak terkunci.
Mekanisme ini akan membuat kunci yang dapat diakses oleh goroutine yang berbeda. Ketika ada sebuah goroutine mengakses bagian tertentu, ia akan mendapatkan kunci tersebut, dan selama kunci tersebut masih dipegang oleh sebuah goroutine, maka goroutine lain akan terhalang untuk mengakses bagian tersebut(acquire) dan menunggu sampai kunci tersebut dilepaskan(release).
Let’s refactor:
var wg sync.WaitGroup
var mu sync.Mutex
...
send := func(ch chan<- int) {
defer mu.Unlock()
defer wg.Done()
mu.Lock()
for i := 0; i < 10; i++ {
ch <- i
total++
fmt.Println("Calculated: ", total, " - ", "Sequence: ", i)
}
}
...
go run -race main.go
:
Calculated: 1 - Sequence: 0
Calculated: 2 - Sequence: 1
Calculated: 3 - Sequence: 2
Calculated: 4 - Sequence: 3
Calculated: 5 - Sequence: 4
Calculated: 6 - Sequence: 5
Calculated: 7 - Sequence: 6
Calculated: 8 - Sequence: 7
Calculated: 9 - Sequence: 8
Calculated: 10 - Sequence: 9
Calculated: 11 - Sequence: 0
Calculated: 12 - Sequence: 1
Calculated: 13 - Sequence: 2
Calculated: 14 - Sequence: 3
Calculated: 15 - Sequence: 4
Calculated: 16 - Sequence: 5
Calculated: 17 - Sequence: 6
Calculated: 18 - Sequence: 7
Calculated: 19 - Sequence: 8
Calculated: 20 - Sequence: 9
Calculated: 21 - Sequence: 0
Calculated: 22 - Sequence: 1
Calculated: 23 - Sequence: 2
Calculated: 24 - Sequence: 3
Calculated: 25 - Sequence: 4
Calculated: 26 - Sequence: 5
Calculated: 27 - Sequence: 6
Calculated: 28 - Sequence: 7
Calculated: 29 - Sequence: 8
Calculated: 30 - Sequence: 9
total 30
See? 3 goroutines setiap eksekusi-nya berjalan berurutan. Ketika goroutine pertama berjalan, goroutine pertama akan dikunci mu.Lock()
. Sementara goroutine lainnya akan menunggu sampai goroutine pertama selesai mu.Unlock()
begitu juga seterusnya.
Conclusion
Well, Go menawarkan pendekatan concurrency yang cukup unik menggunakan goroutine dan channel. Saya noticed, golang menggunakan pendekatan mirip dengan Erlang, keduanya menggunakan “lightweight threads”. Banyak konsep2 concurrency yang cukup rumit sebenernya, tapi di Go itu dibuat sesederhana mungkin, more fun to write dan ditambah lagi dukungan type system yang cukup oke.
So far cukup happy! Untuk itu dengan adanya dukungan kemudahan tersebut penting untuk memahami konsep goroutine dan channel dalam berbagai kondisi, sehingga memastikan aplikasi Go yang kita buat bekerja secara aman, minim bugs, bahkan untuk sebuah concurrent system yang kompleks.
..
Source code: https://github.com/natserract/a-tour-of-goroutines
Additional Reading